f3R1N4

Sunday, April 17, 2005

A Short Note about Mira, my Beloved Sister

05.03.13
A Short Note about Mira, my Beloved Sister

“Yahhh… ilang satu anak mama.”
Duh… sedih banget denger mama ngomong begitu semalem.

Hari ini Mira udah pindah ke Kota Wisata. Well… it was a little bit weird… Entah deh… terserah mau bilang aku terlalu melankolis, atau terlalu apa lah.. Whatever… tapi tetap aja… ada rasa sedih dan kehilangan… Mungkin selama ini, mama dan papa (dan juga semua yang di rumah) merasa tenang-tenang aja.. Kita memang selalu terbiasa berkumpul di rumah, selalu bisa ngeliat semua anggota rumah. Mama dan papa, kecuali waktu Ayuk di Surabaya dan Mira di Bandung, gak pernah pisah sama anak-anaknya. Sekarang baru terasa, gimana harus pisah. Mungkin inilah ‘hukum alam’, sekarang waktunya anak-anak Mama dan Papa untuk punya kehidupan sendiri.

Berat juga rasanya ninggalin Mira di rumah baru… kaya’nya aku sempet liat mata Mama & Mira rada berkaca-kaca. Mama nitip pesen, “Jangan cape’-cape’, hati-hati turun tangganya.”

Kadang, sebagai kakak, aku suka merasa khawatir atau takut sendiri. Protektif sih gak, ya.. Cuma dalam pemikiranku aja.. dari dulu, misalnya, waktu Mira kuliah di Bandung, aku suka mikir, “Duh, gimana ya, dia di sana… bisa jaga diri gak?” Apalagi waktu itu Mira pernah dapet tempat kost yang isinya dia sendiri ditambah yang jaga rumah. Khawatir tempat kostnya aman apa nggak. Atau waktu Maya mulai masuk kuliah, mulai pergi dan pulang kuliah sendiri naik angkutan umum, Maya yang selama ini selalu dianter jemput sekolah, selalu ke mana-mana sama Mama, aku mikir juga, bisa gak Maya naik angkot. Dan sekarang, Mira pindah rumah, Cuma berdua sama Dhanny. Kebayang aja gimana kalau siang sampai malam dia sendirian. Emang sih di Kota Wisata seharusnya aman… tapi kasian aja, ngebayangin dia sendirian seharian. Si Dhanny pergi jam ½ 6 pagi… pulang bisa jam 10 malem… Gak ada yang nemenin Mira… pembantu belum ada, tetangga kiri-kanan juga belum ada.. Entahlah.. mungkin ini Cuma kekhawatiran seorang kakak aja kali, ya…

Mira.. Mirche.. My sister… selama duapuluhlima tahun, kita selalu tinggal barengan (ya.. dikurangin 3-4 tahun selama dia kuliah di Bandung.. tapi itu pun hampir tiap minggu pulang ke Jakarta, atau kita yang ke Bandung)… tidur sekamar… pokoknya bisa ngeliat dia tiap hari…

Emang sih.. it’s not that bad… she just moved to another house… Tapi, ya itu… ada yang berkurang di rumah… ada suara-suara yang gak ada…

Duh… Mira sekarang udah punya kehidupan sendiri, bukannya dia jadi terpisah sama kita. Dia udah punya keluarga sendiri, she’s a wife, and she is a mom-to-be… Well, Insya Allah, she will give me my first nephew.

Mira… aku mungkin emang gak dekat banget dengan dia dibanding Maya, my youngest sister. Tapi, aku tetap punya pandangan sendiri tentang dia. Mira… mungkin dia akan terkenal dengan ‘judes’nya… hehehe.. emang di antara kita berempat, yang paling ‘tajam’ mulutnya ya, si Mira. Malah kita sempat kasih julukan ‘Si Nenek’. Tapi, dia juga yang paling rajin di dapur dan berberes di antara kita. Paling pinter masak, paling kreatif, paling kritis, paling berani ngomong.

Kita sekeluarga, terkadang merasa gak dekat.. tapi sesungguhnya kita bisa jadi kompak dan akan merasa kehilangan banget kalau salah satu gak ada. Emang terkadang ‘mulut’ kita suka terlampau keras atau judes, tapi kita akan tetap saling mendukung, bisa saling bercanda atau saling cela.

I miss Mira so much… but she is not going anywhere.. she just moves to another house…

--------------------oOo--------------------

Resensi Buku: The (Un)Reality Show

Resensi Buku
Judul : The (Un)Reality Show
Penulis : Clara Ng
Jumlah hal. : 360
Penerbit : Gramedia (2005)


Imagine having these people as roommates

Ini adalah cerita tentang delapan orang biasa-biasa saja
(seperti yang disangka oleh tim kreatif televisi)

… dipilih secara acak …
(seperti yang disangka oleh produser televisi juga)

… tanpa audisi …

… untuk tinggal bersama di sebuah rumah untuk direkam,
kemudian ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia
sebagai acara hiburan, meraup rating,
meningkatkan citra stasiun televisi, serta …

keingintahuan untuk melihat apa yang terjadi
ketika orang-orang tersebut tidak bertingkah sesuai dengan skrip cerita
dan mulai bersikap berdasarkan realitas

… as the reality did not turn out exactly
as it had been expected …

Karena pada akhirnya ini adalah …

The (Un)Reality Show
(dari cover belakang The (Un)Reality Show)

Well, itulah sekilas gambaran yang coba ditampilkan Clara Ng untuk buku terbarunya ‘The (Un)Reality Show. Cerita tentang orang-orang yang dipilih untuk tinggal dalam satu rumah selama 7 minggu. Ide cerita bisa jadi diperoleh karena maraknya berbagai macam Reality Show di semua televisi swasta. Sepintas sih, mirip dengan reality show ‘Penghuni Terakhir’ tapi minus hadiah rumah milyaran rupiah. Tadinya sempat terpikir, jangan-jangan ini cerita pembunuhan ala Agatha Christie di cerita ’10 Anak Negro’.
Cerita diawali ketika tim produksi dan kreatif Top TV yang dipimpin Indra sedang mengadakan rapat untuk mencari format acara baru yang heboh dan menggemparkan, serta orisinil. Tercetuslah ide acara The (Un)Reality Show, ide untuk mengumpulkan beberapa orang yang ‘biasa-biasa’ saja di dalam satu rumah yang dipilih secara acak, tanpa audisi. Kenapa namanya The (Un)Reality Show? Karena ini adalah suatu pertunjukan realitas yang bukan realitas. Ini adalah acara balasan dari macam-maca reality show yang sedang dilakukan oleh tv swasta, termasuk reality show yang sedang diputar di Amerika. (hal. 13-14).
Akhirnya, terpilihlah 8 orang untuk ikut dalam acara tersebut, 4 orang laki-laki (Primus, Jodi, Richard dan Feivel), dan 4 orang perempuan (Tara, Wendy, Meiying dan Azuza). Mereka dipilih secara acak, kemudian dikirimi surat yang menyatakan terpilihnya mereka untuk acara itu. Mereka tetap diberi uang saku dan jaminan pekerjaan setelah acara ini selesai.
Kedelapan orang itu mempunyai alasan keikutsertaan yang berbeda, ada yang ingin menjauhkan diri dari para penggemarnya, ada yang ingin ‘istirahat’ sebagai ibu, ada yang ingin melunasi hutang-hutangnya. Latar belakang dan karakter mereka pun yang berbeda, ada yang karena terlalu ganteng sampai dibilang ‘setengah dewa’, ada yang mantan narapidana, ada yang mengaku homoseksual, ada perempuan peramal, ada perempuan yang jago membetulkan segala perkakas.. bahkan ada anak perempuan berumur 10 tahun!
Berbagai tantangan diberikan, timbul berbagai konflik dan kejadian-kejadian tak terduga yang akhirnya memunculkan karakter asli mereka. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang datang dari kehidupan mereka yang sebenarnya. Perbedaan pendapat muncul, tapi juga menimbulkan keakraban di antara beberapa peserta. Di antara mereka masih ada yang tertutup dan belum bisa membaur. Belum lagi stress yang dihadapi koordinator lapangan menghadapi berbagai protes dari para peserta, kebakaran dapur bahkan adanya ancaman bom… bahkan sang direktur TopTV pun harus masuk rumah sakit karena stress… Sesekali cerita diselingi dengan kehidupan para tokoh sebelum mereka ikut acara ini.
Ketika kita sedang ‘terhanyut’ dalam cerita ini, tiba-tiba kita ‘dikejutkan’ oleh suatu fakta baru yang bisa merubah bayangan kita akan akhir dari cerita ini… seperti kata Veven Sp. Wardhana di kolom komentar, “The (Un)Reality Show pada akhirnya bisa berbias menjadi the reality of show atau the reality of (un)show atau the show of show atau the show of behind the show…” (nah.. bingung, kan?)
Sepertinya Clara Ng berhasil ‘menjebak’ pembaca untuk mengikuti alur cerita yang teratur dibumbui sedikit-sedikit kejutan, sebelum diberi kejutan yang besar..

fps.05.03.08

--------------------oOo--------------------

Dari Launching ‘Puing’

Dari Launching ‘Puing’
QB World Plaza Semanggi
5 Maret 2005

Hari Sabtu kemarin, aku udah niat banget pengen dateng ke acara launching buku ‘Puing’. Katanya sih, acara mulai jam 16.00 untuk umum, sementara jam 15.00 itu buat undangan. Tapi, pas datang ke sana jam 4 sore.. yahhh.. koq kaya’nya udah mulai lama banget.. dan aku yakin pasti gak ada session ke dua. Jadilah aku ‘ketinggalan kereta’ dan bingung karena gak nyambung.

Dari 9 penulis, cuma Bondan Winarno yang aku rada familiar. Itu pun karena aku ikutan milis Jalansutra dan pernah baca buku Jalansutra, jadi tau deh yang mana orangnya. Sementara yang lain, sepertinya (kaya’nya nih…) adalah nama-nama baru. Gak tau kalo mereka cukup ngetop di dunia permilisan.

Jadi nih… ‘Puing’ ini adalah ‘Sebuah Novel Kolaborasi’. Para penulisnya adalah Bondan Winarno (sekaligus sebagai penyunting), Suzana Widiastuti, Arief Hamdani, Anna Hadi, Priatna Ahmad Budiman,, Anna Budiastuti, Violeta Narcissus dan Gredika Noor Hanes. Mereka semua tergabung dalam milis truedee.

Kenapa ‘kolaborasi’? Kenapa bukan ‘kumpulan cerpen’ atau ‘antalogi cerpen’? Menurut salah satu penulis (lupa siapa… tepatnya gak tau namanya..), karena cerita-cerita ini meskipun berdiri sendiri punya benang merah satu sama lain. Tokoh di satu cerita, bisa muncul cerita lainnya. Semua tokoh di dalam cerita ini punya satu hal yang sama yang akhirnya ‘mempertemukan’ mereka, yaitu misteri kematian. Seram?? Gak, koq.. ini bukan novel horor. Mereka hanya berusaha mencari ‘apa itu kematian’ dalam berbagai sisi. Di pengantar buku ini, disebut “Puing: Sebuah Novel Kolaborasi, tentang Hidup, Mati dan Hidup sesudah Mati.”

“Puing adalah sebuah genre baru novel kolaborasi permenungan tentang kematian dariberagam perspektif penulis. Sebuah novel tentang kemanusiaan, AIDS dan pencarian makna hidup dengan gaya tutur "soft imajinatif", dan kemuraman kisah cinta. Sebuah novel "very dark love story", serta perjalanan pencarian sufi pecinta akan makna hidup dan kematian.

PUING di edit dengan sangat piawai oleh Bondan Winarno, merangkai benang merah pada tiap-tiap cerita, menisikkan jalinan 'sad end love story' dan kematian menjadi sebuah pencaharian tak kunjung selesai tentang makna ilahiah dibalik peristiwa, serta akhir yang mengejutkan.”

(dikutip dari email arief ludiantoro [ar1ef2001@yahoo.com]; Fri 3/4/05 9:42 AM; subject: PUING: ukuran cinta sejati; di milis pasarbuku)

Oh, ya, alasan kenapa aku pengen datang ke launching ini, yang pasti karena aku pengen berburu tanda tangan penulis, dan aku juga pengen tau launching buku tuh seperti apa sih.

Terus, ada yang sempet nanya, kapan sebaiknya novel ini dibaca, dan soundtrack apa yang mendukung? Katanya sih… berhubung temanya rada-rada misterius, sebaiknya dibaca malam hari.. sebelum tidur.. atau malah tengah malam sekalian… Jawaban soal soundtrack, sayangnya aku gak kedengeran.

Mungkin karena udah ketinggalan, aku jadi rada bosen. Akhirnya aku liat-liat buku di QB aja. Oh ya… untung aku masih kebagian buku ‘Puing’, karena pas aku tanya, tinggal satu-satunya yang ada di display. Nah, pas udah session book signing, baru deh aku ‘memberanikan’ diri ke tengah-tengah kerumunan. Tapi aku harus cari pinjeman bolpen dulu, karena aku lupa gak siap bawa bolpen. Karena aku gak familiar dengan para penulis (kecuali Pak Bondan), akhirnya aku ngeliat dulu mana yang lagi sibuk tanda tangan, mana yang kerumunan yang cuma haha – hihi. Hmmm… my first impression sama penulis-penulis itu… ada yang nyentrik, karena pake baju sufi (salah satu tema Puing memang ada yang berbau sufi); ada yang ramah, pas dimintain tanda tangan, malah dia bilang,”Ma kasih ya, udah minta tanda tangan.” Lho… koq kebalik?? (tapi aku lupa siapa namanya… emang harusnya tanda tangan di fotonya kali ya…). Terus.. ada yang tanda tangannya pake stemple namanya; ada juga yang rada ‘sok’, pas dimintain tanda tangan sambil ngobrol dan liat ke tempat lain.. hmmm.. berasa seleb baru kali, ya…

Yang lucunya, masa’ ada seorang panitia (mbak-mbak yang harusnya jadi penerima tamu, tapi dia malu disuruh duduk di depan), aku tanya salah seorang nama penulisnya, terus dia bilang, “Mau minta tanda tangan, ya? Sini aku yang mintain.” Kirain (harusnya) dia tau, dong yang mana si penulis itu… ehhhh… pas aku liat, dia malah tanya ke yang lain dulu… baru dia mintain tanda tangannya… Gimana, sihhhh…???

Kalau ada launching buku lagi, rasanya aku masih mau untuk coba datang lagi… Dan pengen ngikutin dari awal.. It was good… and it was a new experience

fps.05.03.08

ps: resensi Puing-nya menyusul

--------------------oOo--------------------