f3R1N4

Tuesday, May 03, 2005

Puing: Sebuah Novel Kolaborasi

Resensi Buku:

Judul: Puing: Sebuah Novel Kolaborasi
Penulis: Bondan Winarno, Anna Budiastuti, Anna Hadj, Arief Hamdani, Gredika Noor Hanes, Iravan Sjafari, Priatna Ahmad Budiman, Suzana Widiastuti, Violeta Narcissus
Penyunting: Bondan Winarno
Jumlah hal.: xvi + 288
Penerbit: The BeBop Publishing (Pebruari, 2005)


Novel kolaborasi? Wah… suatu yang baru, kah? Kesembilan penulis di atas mengatakan kalau ini mungkin adalah yang pertama kalinya. Bukan kumpulan cerpen, bukan antalogi cerpen. Waktu itu aku sempat datang ke launchingnya di QB Plaza Semanggi, menurut mereka, maksud dari novel kolaborasi ini, dari tiap ‘cerita pendek’ di masing-masing bab mempunyai benang merah satu sama lain meskipun masing-masing cerita itu tetap berdiri sendiri menceritakan tiap individu yang berbeda. Tiap tokoh bisa muncul di berbagai cerita yang akhirnya menunjukkan adanya hubungan di antara mereka. Kesembilan penulis ini sebelum ini tergabung dalam milis truedee, milis untuk penikmat tulisan-tulisan Dewi Lestari ‘Supernova’, sebelum akhirnya sepakat untuk membuat buku sendiri.

‘Puing’ berbicara tentang Hidup, Mati dan Hidup Setelah Mati. Menceritakan tujuh orang yang mempunyai ketertarikan yang sama, yaitu tentang misteri kematian. Ini bukan novel horor, jadi buat yang gak suka sama cerita seram, gak perlu mengurungkan niatnya untuk membaca buku ini.

Tujuh tokoh dalam cerita ini, Azumi, seorang ilmuwan yang menyelidiki misteri kematian; Kalyana, mahasiswi yang juga seorang pecatur handal; Ditto, mahasiswa yang punya kemampuan spiritual yang lebih; Odith, pemuda yang selalu murung; Dani, sufi pecinta; Ayala, punya sahabat yang mengidap AIDS dan Delon, sutradara yang tercebur dalam suatu sekte ‘Persaudaraan Akhir Zaman. Ditambah lagi tokoh Dirga, sahabat Ayala dan Maia, sahabat Kalyana.

Mereka berkenalan di sebuah milis after_life, milis untuk mereka yang tertarik pada misteri kematian. Secara pribadi, masing-masing pernah mengalami atau bertemu dengan masalah kematian. Misalnya Azumi yang ditinggal ibunya ketika melahirkan adiknya, disusul dengan kematian adiknya itu sendiri. Lalu, Ayala yang mendampingi Dirga ketika AIDS merengut nyawa Dirga, kemudian, Delon yang membuat film tentang hari kiamat, tapi ternyata anjlok di pasaran; Ditto yang kehilangan neneknya, Dani yang kehilangan kekasihnya di saat ia tengah berselingkuh.

Mereka memandang kematian dari sisi mereka masing-masing, berusaha mencari jawabannya di milis after_life.

Cerita dibuka dengan janji untuk kopi darat di Hotel JW Marriot, tempat Azumi akan mempresentasikan makalahnya yang lagi-lagi tentang misteri kematian. Teman-teman dari milis after_life diundang secara khusus sebagai participating observers. Cerita penutup yang ditulis oleh Bondan Winarno, menggambarkan ketika pertemuan antara mereka (minus Kalyana) terjadi di hotel itu. Lalu, terjadilah peristiwa tak terduga yang justru mempertemukan mereka dengan kematian itu sendiri. Kematian yang selama ini mereka cari. Bom Marriot menjadi ‘perantara’ cerita bagi para sahabat itu untuk menyongsong kematian mereka sendiri.

Kesembilan penulis mewakili masing-masing tokoh dalam cerita ini. Hubungan para tokoh digambarkan secara baik tanpa mengesankan adanya ‘pemaksaan’. Ide ceritanya sendiri menarik, karena tokoh yang banyak, kita jadi bisa menemukan latar belakang yang berbeda. Misalnya, kalau baca kisah Azumi, kita seperti membaca science fiction, kalau baca cerita Delon, seperti nonton film yang bercerita tentang end of days atau film tentang sekte-sekte, lain lagi kalau baca cerita Dani, banyak kalimat-kalimat puitis berbau spritual, atau baca cerita Ditto, kita bisa terbayang sedang nonton ‘Dunia Lain’, karena sedikit mistis. Menarik, penuh dengan makna filosofis yang dalam.

fps. 05.03.14

--------------------oOo--------------------